Mendewasakan kami

Alhamdulillah ga terasa pernikahan kami sudah berjalan hampir satu setengah tahun.

Udah banyak banget yang kami lewati, suka maupun duka.

Pernikahan memang tak selalu berjalan mulus, kadang ada kerikil dan batu yang harus kami lewati.

 

Awal pernikahan kami, rasanya semua itu membahagiakan. Dunia terasa seperti milik kami berdua, yang lain ngontrak. hehehe…. Bahkan dulu sampai melebih-lebihkan banget. Tau ga nikah itu rasanya nyesel…. Nyesel kenapa? Nyesel banget kenapa ga dari dulu…. :p

Ya begitulah jawabanku setiap ada teman bertanya. Tapi setelah beberapa bulan dan tahun yang kami lewati, teman-teman kadang sering bertanya. Gimana rasanya nikah? Aku suka bingung menjawabnya. Karena rasanya itu manis, asem, asin, dan terkadang pahit.

Kami yang berasal dari keluarga dengan latar belakang berbeda, pergaulan berbeda, cara berpikirpun berbeda. Sejak menikah ya aku jadi lebih sensitif. Kenapa ya, aku juga kurang mengerti. Aku jadi sering menangis. Mungkin karena aku yang melankolis. Atau cinta yang membuatku seperti ini. Atau karena saking bahagianya.

Masku itu orang yang sangat supel, ramah, dan care sama siapapun. Dengan laki-laki maupun perempuan. Yang terkadang membuatku cemburu. hehehe…. Tapi setelah berjalannya waktu, aku jadi semakin mengerti dengannya. Aku menyikapinya dengan dewasa. Dan masku juga mulai memahamiku. Kami sama-sama saling memperbaiki diri.Yang penting komunikasi itu harus berjalan dengan lancar. Untungnya masku yang selalu mengajarkanku untuk berkomunikasi dengan baik. Bagaimana mengutarakan pendapat, berdiskusi, dan apapun yang kita rasakan.

Tadinya aku cenderung selalu memendam perasaanku. Dan tiba-tiba menangis. Padahal suamiku itu sama sekali tidak pernah marah padaku. Akhirnya aku belajar untuk berbicara apapun yang aku pikirkan dan rasakan. Dan rasanya itu legaaaaaaa banget, ketika kita mengutarakan apa yang kita inginkan.

Dan pertengkaran-pertengkaran kecil itu, membuat kami makin mengerti dan memahami diri kami satu sama lain. Kami belajar untuk saling membahagiakan. Kami juga jadi lebih dewasa dan matang dalam menyikapi hidup. Ya karena pernikahan itu tujuannya saling membahagiakan untuk dunia dan akhirat. Dan aku mencoba untuk menjadi istri yang toat, dan selalu berusaha menyenangkan hati suami. Bagaimana menyenangkan suami? Dengan memasak makanan untuknya, membuat suasana rumah nyaman, memberinya semangat dan senyuman, melayani di kamar (uhuuk…), dan lain sebagainya. Pada awalnya memang agak sulit untuk toat pada suami. Apalagi kita baru saja kenal dan dekat. Aku siapa, dia siapa. Tapi aku perdalam lagi ilmu Quran Hadits. Dan aku menemukan kisah seorang wanita yang pertama kali masuk surga. Wanita yang sangat toat untuk mendapat ridho suami. Bahkan sampai rela dipukul, jika makanannya tidak enak, demi mendapat ridho suami. Ah mengapa aku tidak bisa seperti dia.

Dan aku pun belajar. Belajar masak, dan alhamdulillah setiap aku masak si mas selalu memujiku bahwa masakanku enak. “Dekqu sekarang masaknya enak terus nih, mas jadi pengen nambah terus.” Hehe…. Rasanya bahagia kalau suami bicara seperti itu, Aku juga belajar bagaimana mengurus suami, menyiapkan ia berangkat kerja. Bajunya, celananya, makanannya, minumannya, semuanya. Dan aku baru merasakan mulianya seorang istri itu ya seperti ini. Ketika dia bisa memperlakukan suaminya dengan baik. Ketika suaminya itu senang padanya. Kalau suami senang dan ridho, maka surga pun di depan mata kita. Subhanallah….

Aku juga belajar untuk berkomunikasi dengan baik. Mengutarakan dengan baik apa pendapatku. Tapi selain itu terkadang aku juga bersikap tegas. Dan kami membuat peraturan di rumah. hehe. Karena aku suka rumah yang rapi dan bersih. Jadi aku katakan, kita mesti saling bekerjasama untuk membuat rumah itu nyaman, rapi, dan bersih. Kebersihan itu kan sebagian dari iman bukan?

Suamiku juga belajar memahami dan mengerti tentangku. Bahkan ketika aku lelah dan sedang tidak mood. Gantian suami yang masak. hehe… Tapi masku itu paling rajin nyuci baju. Bahkan aku jarang sekali nyuci baju. Alhamdulillah dia selalu berusaha membuatku bahagia.

Kami juga mengatur keuangan kami. Suami yang bekerja. Dan aku yang mengatur keuangan kami, dengan izin suami. Karena rumah tangga itu kebutuhannya ada aja. Bahaya juga kalau tidak bisa mengatur keuangan. Apalagi kami juga punya tanggung jawab untuk keluarga kami. Kami sudah berjanji, bahwa walaupun kami menikah, kami akan tetap membantu keluarga kami. Apalagi aku anak pertama, dan masku juga masih punya adik-adik…

Dan akhirnya kami semakin belajar untuk mengerti, memahami, ikhlas dan bersyukur. Atas hak dan kewajiban yang kami dapatkan. Ya menikah itu memang membahagiakan, tapi di dalamnya ada tanggung jawab yang besar yang harus kita jalani. Dalam pernikahan itu ada niat yang baik, maka harus dijalani dengan baik. Setiap pasangan berusaha untuk saling membahagiakan dan menjadi yang terbaik untuk pasangannya. I love u my husbee…. :*

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s