Komitmen??

Baru-baru ini tiba-tiba saja, aku mendapatkan sebuah sms dari teman lamaku ketika duduk di bangku taman kanak-kanak. Bayangkan saja sudah berapa tahun ya kira-kira. Waktu TK dulu memang kami akrab. Tapi setelah begitu lama waktu berjalan, perlahan pun kami menjauh. Karena faktor pergaulan mungkin, dan situasi yang mengkondisikan seperti itu.

Sebenarnya aku agak kaget, shock, dan bingung. Campur aduk deh rasannya. Aku dulu mengenalnya begitu baik, karena kami tetanggan. Teman main kecilku, berangkat dan pulang sekolah pun bareng. Tiba-tiba saja aku mendapatkan cerita yang membuatku miris.

Dia sekarang ini sudah menikah. Sepertinya sudah lama, mungkin sekitar 3 atau 4 tahun yang lalu. Sebelum sms yang sekarang ia sempat juga bercerita bahwa ia sedang ada masalah. Saat itu ia sedang hamil. Ia bercerita sedang ada masalah dengan suaminya. Mereka sering bertengkar. Dan sekarang  mungkin usia anaknya sudah 2 atau 3 tahun. Ia kembali mengirim pesan padaku. Ia kembali bertengkar dan sekarang lebih besar masalahnya. Bahkan suaminya meminta cerai. Penyebabnya adalah katanya suaminya menyukai wanita lain, dan menganggap ia (maaf) jelek dan tidak bekerja.

Ya Allah kejam sekali pria yang seperti itu. Naudzubillahimindzalik. Seketika aku langsung berfikir, mengapa bisa terjadi hal yang demikian itu. Kalau suami melihat fisik sang istri, bukankah dari awal memang sudah tau bagaimana sosok fisik istrinya ini. Kalau dulu ia bisa menerima, kenapa sekarang tidak? Mengapa seseorang bisa berubah sebegitu drastis? Bukankah seharusnya di awal ia sudah memikirkan masak-masak untuk berkomitmen dalam ikatan suci pernikahan.

Jujur saja, dalam hati saya sangat sedih, miris. Padahal orang lain yang mengalaminya, tapi perasaan saya  ikut bersedih.

Hal seperti ini bisa menjadi pembelajaran untukku, bagaimana kehidupan suami istri itu. Bagiku pernikahan adalah hal yang sangat suci dan sakral. Oleh karena itu, aku sangat selektif dan hati-hati untuk menentukan siapa yang akan menjadi pendampingku. Dan setelah kita memutuskan seseorang yang tepat, disanalah kita berkomitmen dalam ikatan suci pernikahan. Dimana kita berjanji di hadapan Allah, dan mengikrarkan kehidupan kita dalam pernikahan. Saling menjaga, mencintai, menasehati, mengasihi, menyayangi dengan pasangan. Suami istri adalah pasangan kita di dunia, dan jika Allah mengqodarkan maka akan dipertemukan kembali di akhirat.

Nah kembali lagi ke permasalahan temanku. Sebenarnya aku juga bingung harus berbuat apa. Mencampuri urusan mereka pun tidak mungkin bukan, yang bisa dilakukan ya hanya memberi nasehat. Sayangnya memang ia belum menjalani islam secara kaffah yaitu secara Quran hadits. Jadi ya jika aku memberi tahu penjelasan yang lebih dalam mungkin akan bingung. Si suami pun katanya jarang sholat dan suka taruhan. Ya mungkin ini memang sudah kelewatan. Apakah hal seperti ini masih mungkin dipertahankan? Entahlah….

Melihat fenomena seperti ini aku menjadi bersyukur sekali ya Allah. Aku memiliki suami yang teramat sangat baik sekali padaku. Sangat memuliakan aku sebagai seorang istri. Sangat pengertian dan perhatian padaku. Walaupun ya pernah sedikit ada pertengkaran kecil, karena salah paham atau beda pendapat. Tapi alhamdulillahnya cepat terselesaikan. Dan setelahnya kami makin romantis lagi. Dan belajar untuk saling  keporo ngalah. Dan lebih menjaga komunikasi dengan baik. Karena aku yang tadinya sulit untuk bisa berkomunikasi, tapi karena masku open dan sangat memperhatikan apa yang terjadi padaku. Maka aku menjadi lebih terbuka.

Ketika aku belum terbiasa memasak, ia pun membantuku. Namun sekarang aku telah belajar bagaimana menciptakan resep-resep baru. Terkadang ia pun suka membantu pekerjaan rumah, seperti cuci piring, membuat sarapan, dan mencuci baju. Ahhh bersyukurnya aku ya Allah. Aku sungguh sangat mencintainya ya Allah. Bahkan saat aku sedang sakit, masku yang menggantikan semua pekerjaanku. Dari mulai memasak, mencuci, dll. Walaupun rasa masakannya sedikit hambar. hihi. Tapi karena masaknya pake cinta, jadi terasa nikmat. Eits tapi jangan sampai lupa juga tugas kita sebagai seorang istri. Yaitu melayani suami. Saling pengertian dan menjaga komunikasi adalah hal yang sangat penting dalam pernikahan. Berkatalah selalu yang lemah lembut.

Nah itulah komitmen dari kami. Kita menikah bukan hanya setahun atau dua tahun. Tapi seumur hidup kita. Bayangkan. Kalau kita tidak mampu menjaga kerukunan bisaa bahaya jadinya. Tapi kami selalu mengusahakan untuk menyelesaikan masalah secepat mungkin. Kami saling introspeksi dan yang terpenting menjaga komunikasi yang baik. Sekalipun jangan pernah berkata kasar jika sedang emosi. Lebih baik diam dan berwudhu. Kami ingat lagi janji-janji kami, saat-saat kami bersama dengan mesra, perasaan cinta kami, dan lain-lain. Karena jika perpisahan atau talak terjadi, maka Arsy Allah akan berguncang. Hal itu adalah sangat dibenci oleh Allah. Maka berhati-hatilah dalam memutuskan untuk berkomitmen dalam pernikahan maupun untuk perpisahan.

Itu bukan hal yang sepele, yang harus benar-benar dipertimbangkan.

Mudah-mudahan orang lain di luar sana mengerti, betapa pentingnya menjaga keharmonisan dengan pasangan, keluarga, maupun dengan orang sekitar kita.

Ya Allah berikanlah qodar yang baik untukku dan suamiku. Jadikan kami pasangan dunia akhirat selamanya. Selalu rukun, harmonis, dan mesra. Menjadi keluarga sakinah, mawadah, warahmah. aamiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s