Idealisme yang mulai luntur

Hidup beridealisme, bisa diartikan dengan hidup atau berusaha hidup menurut cita-cita, menurut patokan yang yang dianggap sempurna. Senada bahwa ideal adalah relativitas kesempurnaan.

Manusia umumnya menemukan idealismenya direntang mereka menghadapi fase kedewasaan. Itu menurut saya. Mengapa? Karena di rentang tersebutlah mulai tersibak apa yang menurut pikiran (dan pengetahuannya) bernilai benar atau salah, baik atau buruk. Dan dalam proses menuju kedewasaan tersebut, sesuatu (yang juga secara subjektif) terlihat sempurna akan ditemui.

Saya juga sedikit menyimpulkan bahwa menemukan idealisme diri juga mengait pada faktor usia. Benarlah bahwa hanya sedikit manusia yang menemukan idealisme di usia dini. Tetapi, di usia saat manusia menempuh pendidikan tingginya, mulai berkembang idealisme yang terlihat (atau dilihatnya), mulai muncul berbagai idealisme yang menjadi pilihan (yang juga bisa dipilihnya).

Singkatnya, mudah bagi seseorang yang sedang menjalani pendidikan tingginya untuk menemui pilihan idealismenya dan berusaha dengan pilihan idealismenya tersebut. Bisa jadi ini perkara tersedianya fasilitas perkenalan (dengan idealisme tersebut) juga tentang seiring dengan berjalan kehidupan seseorang, menjadi luas pula apa yang mungkin menjadi pengetahuannya (dan pengetahuan tentang idealismenya).

Bentuk idealisme bisa bermacam-macam. Beridealisme juga pilihan bagi manusia secara luas. Meski banyak dari yang beridealisme adalah orang-orang dengan pendidikan tinggi. Tapi juga tidak aneh bila beridealisme bisa ditemui oleh orang-orang bersahaja, yang tidak mantap pendidikannya. Bagi mereka mungkin bukan bernama idealisme, bisa bernama cita-cita atau prinsip atau komitmen. Sejauh hal tersebut merupakan kondisi sempurna dalam pandangan mereka, dan berusaha hidup menuju kondisi sempurna itu juga merupakan jalan yang mereka inginkan dalam hidup maka hal itu (saya katakan) sama dengan beridealisme.

Ini kenapa saya jadi membahas masalah idealisme ya?? Inilah mungkin karena beberapa prinsip saya yang berkaitan dengan idealisme ini ditambah juga dengan seseorang yang selalu mengingatkan saya tentang idealisme.

Entahlah, mungkin nilai idealisme di dalam diri saya pribadi mulai luntur. Ya saya merasa seperti itu. Dulu rasanya banyak sekali yang menjadi cita-cita dan impian saya. Dan banyak hal yang ingin saya lakukan dalam hidup saya. Rasanya semuanya telah sempurna tercantum di otak saya, dan langkah-langkah apa saja yang harus saya ambil untuk mencapai semua impian-impian saya tersebut. Bahkan saya selalu merasa semangat dan termotivasi ketika sikap idealisme saya mulai berkembang.

Idealisme. Sebuah kata yang kadang terkesan angkuh di telinga awam walaupun sejatinya ia merupakan identitas yang pastilah dimiliki oleh setiap orang. Idealisme ada dan tumbuh berkembang seiring dengan bertambahnya usia seseorang.

Waktu kecil, idealisme masih terendap dalam jiwa manusia. Contohnya saja, anak kecil masih mudah dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya untuk menentukan atau melakukan sesuatu dalam hidupnya. Mau makan apa? Cokelat atau permen? Sedetik melihat cokelat, ia akan kepingin. Tapi melihat permen, ia berubah pikiran.

Kala remaja, idealisme mulai bertumbuh. Tidak perlu jauh-jauh. Mungkin saya akan mengambil contoh, diri saya pribadi. Saat jaman masa kejayaan, maksudnya jaman masih remaja. Kira-kira sekitar 16 atau 17 tahunan, idealisme mulai tumbuh dalam diri saya. Berbagai ilmu pun ingin saya raih. Dan saya bebas ingin mengungkapkan segala idealisme saya. Segala pendapat yang berbuah dari pikiran-pikiran saya. Perlahan saya belajar untuk memilih, menyukai, menekuni, dan mengharapkan. Orang-orang sekitar, buku, koran, guru, dan banyak hal turut membentuk idealisme saya, sehingga batin saya terus berucap sesuatu yang ideal, yang seharusnya dicapai, agar semuanya berjalan sesuai dengan kaidah.

Kala dewasa,, ya sekarang ini saya sudah beranjak dewasa. Saya sudah lebih dari 20 tahun, dan pantas dikatakan dewasa. Tidak hanya umur saja yang bertambah, tapi pola pikiran pun seharusnya ikut mendewasakan saya. Tapi mengapa tiba-tiba ada perasaan takut. Takut karena sikap idealisme yang mulai luntur dalam diri saya. Merubah saya untuk bersikap realistis. Idealisme, yang mati-matian saya perjuangkan. Lalu tiba-tiba saya harus menerima bahwa semua itu kembali pada sikap realistis pada kehidupan nyata.

Dimana letak idealisme kala manusia beranjak dewasa? Saya melihat kehidupan banyak orang dewasa dengan idealisme yang terkubur entah di relung mana dalam jiwa mereka, seakan-akan mewujudkannya adalah perbuatan naif.

Lihat saja. Siapa yang tidak mau melihat negaranya maju? Seluruh anak muda pastilah ingin. Para pemimpin kala mudanya juga pasti mau. Namun waktu dewasa…Waktu mereka duduk di singgasana sana…Pandangan ideal itu entah raib kemana. Sikap idealis digerus oleh pandangan orang untuk menjadi realistis. “Kami butuh senang, kami butuh uang, kami butuh menang.”

Saya sering melihat pengalaman-pengalaman seseorang ketika benar-benar beranjak dewasa. Ketika memang sudah benar-benar menghadapi tantangan-tantangan hidup. Contoh seorang guru. Seorang guru yang memiliki idealisme yang tinggi, pastilah ingin agar siswa-siswa menjadi cerdas untuk meneruskan bangsa ini. Tanpa ada embel-embel ingin mendapat keuntungan pribadi dari hasil mengajar mereka. Tapi kembali lagi pada sikap realistis. Hey, saya butuh hidup, saya butuh penghargaan. Maka sikap idealisme itu tak lagi menguat. Atau ketika seorang guru yang idealis menerapkan kejujuran untuk siswa-siswa mereka. Jujur saat mengerjakan tugas, dan ulangan. Tapi jaman sekarang ini seperti yang kita lihat di berita-berita, bahkan guru sendiri yang menerapkan siswanya untuk mencontek berjamaah ketika UN.

“Realistis, dong” kata-kata itulah yang lebih sering diucapkan ketimbang “Idealis dikit, dong!”

Apakah sikap realistis adalah sebuah senapan yang mampu membunuh idealisme? Karena sulit cari uang, karena butuh makan, butuh menafkahi keluarga, idealisme mulia boleh diabaikan? Apa iya idealisme akan luntur ketika kita dewasa?

Entahlah, apakah di jaman sekarang ini masih terdapat idealisme yang mulia. Yang awalnya telah saya terapkan, telah saya cita-citakan, telah saya impikan di memori otak saya.
Hm…mungkin bahwa kehilangan idealisme bisa menjadi sangat mungkin terjadi. Dimana hal tersebut sangat bergantung pada pemeliharaanmu terhadap idealisme tersebut. Satu waktu pun, mungkin, akan datang saat dimana idealisme itu harus dilepaskan atau dibiarkan lepas dengan sendirinya. Untuk alasan force majeur, atau untuk alasan dorongan dari sebagian besar porsi kehidupanmu yang lain.

Bayangkan kalau semua idealisme mulia dapat tetap bertahan dalam nurani setiap orang. Bukankah kehidupan akan menjadi lebih baik? Saya yakin kalau Marthin Luther King dan Nelson Mandela tidak idealis untuk mewujudkan dunia yang lebih baik, dunia pasti masih dilanda penyakit-penyakit sosial. Idealisme yang mulia akan berdampak mulia pula bila diperjuangkan dan diwujudkan.

Dan mungkin saat ini, di saat idealisme-idealisme yang telah saya susun, yang telah saya rencanakan, dan yang seharusnya saya pilih sebagai pilihan hidup saya, terkadang telah keluar jalur dari yang seharusnya. Dari yang telah saya komitmenkan. Di saat itulah saya hanya ingin mencari idealisme yang lain. Yang seharusnya memang akan menjadi hal yang ideal. Dan yang akan saya temukan di sisi lain jendela kehidupan saya.

One thought on “Idealisme yang mulai luntur

  1. Salam kenal, Mbak.

    Terima kasih atas tulisannya. Walaupun ini tulisan lama, saya senang membacanya. Sejujurnya, sekarang saya sedang dalam masa-masa seperti yang Mbak tuliskan di tulisan ini. Idealisme saya sedang dipertanyakan, dan saya sendiri khawatir idealisme itu akan menghilang. Itu membuat saya mencoba berjalan-jalan mencari tulisan tentang idealisme untuk mencari tahu sebetulnya bagaimana idealisme menurut pandangan orang-orang.

    Kalau boleh tanya, setelah 2 tahun berlalu, gimana idealisme Mbak? Semakin luntur atau bahkan menghilang, atau malah semakin kuat?😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s